Pelatihan untuk Pengembangan Organisasi: Bagaimana Kami Menerjemahkan Kebutuhan Menjadi Pengalaman Belajar

Setelah kebutuhan mulai dipahami, pekerjaan berikutnya dalam pelatihan bukan langsung memilih kegiatan.

Justru di titik inilah banyak pelatihan sering mulai bergerak terlalu cepat. Kebutuhan baru saja dibicarakan, lalu perhatian sudah berpindah ke bentuk: aktivitas apa yang akan dipakai, metode apa yang akan dipilih, suasana seperti apa yang ingin dibangun.

Bagi kami, langkah berikutnya bukan itu.

Setelah kebutuhan mulai terlihat, kami perlu membuatnya lebih konkret.

Biasanya kebutuhan awal masih muncul dalam bentuk yang cukup umum:
komunikasi perlu diperkuat, koordinasi belum rapi, kepemimpinan perlu dikembangkan, kerja sama belum berjalan efektif, atau pengambilan keputusan masih lemah.

Semua itu masih terlalu luas untuk langsung dilatih.

Karena itu, kami biasanya menurunkannya terlebih dahulu ke dalam kompetensi yang lebih jelas, lalu menerjemahkan kompetensi tersebut ke perilaku yang dapat dilihat, diamati, dan dilatihkan.

Bagi kami, ini bagian yang sangat penting.

Sebab tanpa perilaku yang jelas, pelatihan akan mudah berhenti di tingkat konsep. Peserta mendengar istilah-istilah besar, fasilitator membahas hal-hal yang terdengar baik, tetapi arah pembelajarannya masih kabur. Orang bisa merasa sedang membicarakan sesuatu yang penting, tetapi belum tentu tahu dengan jelas perilaku apa yang sebenarnya perlu dilakukan secara berbeda.

Sebaliknya, ketika perilaku yang ingin diperkuat sudah lebih jelas, pelatihan mulai punya bentuk yang lebih nyata.

Misalnya, jika yang ingin diperkuat adalah komunikasi, maka pertanyaannya bukan lagi hanya “bagaimana meningkatkan komunikasi”, tetapi, perilaku komunikasi seperti apa yang ingin muncul:

  • apakah peserta perlu belajar menyampaikan pesan dengan lebih jelas,
  • mendengarkan sebelum merespons,
  • memastikan informasi dipahami,
  • atau berani menyampaikan hal penting pada waktu yang tepat.

Begitu juga dengan kerja sama, kepemimpinan, koordinasi, atau pengambilan keputusan. Semua itu baru benar-benar bisa dilatih ketika sudah diterjemahkan ke perilaku yang lebih konkret.

Di titik inilah langkah berikutnya menjadi lebih logis: ‘merancang pengalaman belajar yang relevan’.

Bagi kami, pengalaman belajar bukan dipilih karena terlihat menarik, seru, atau berbeda. Pengalaman belajar dipilih karena paling cocok untuk membantu peserta memunculkan, mengenali, mencoba, dan melatih perilaku yang ingin diperkuat.

Dengan kata lain, bentuk pengalaman belajar selalu mengikuti tujuan belajarnya.

Karena itu, media untuk memunculkan pengalaman belajar bisa hadir dalam banyak bentuk. 

  • Ini bisa berupa challenge-based experiences atau pengalaman menantang, seperti rope course atau tantangan yang menuntut keberanian, koordinasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang dirancang.
  • Bisa juga berupa outdoor-based activities kegiatan olah raga luar ruangan, seperti hiking, trekking, rafting, atau kegiatan berbasis alam lain yang memberi ruang bagi peserta untuk mengalami ritme, tekanan, kerja sama, dan respons terhadap situasi nyata.
  • Dan bisa hadir dalam bentuk arts-based experiences atau pengalaman berbasis seni, seperti musik, mural, melukis, gerak, tari, membuat karya visual, atau membuat film pendek, ketika medium kreatif lebih tepat untuk membuka ekspresi, kepekaan, kolaborasi, atau cara melihat persoalan dari sudut yang berbeda.

Di sisi lain, pengalaman belajar juga bisa dirancang melalui simulasi, role play (bermain peran), games, collaborative tasks (tugas kolaboratif), atau bentuk proses interaktif lain yang memungkinkan peserta berhadapan dengan situasi tertentu, mengambil peran, membuat pilihan, dan melihat konsekuensi dari perilaku mereka sendiri.

Jadi bagi kami, bentuk pelatihan tidak pernah berdiri sendiri.

Yang penting bukan apakah pelatihan menggunakan rope course, aktivitas luar ruang, seni, game, simulasi, atau bentuk pengalaman lain. Yang lebih penting adalah:
mengapa bentuk itu dipilih, perilaku apa yang ingin dimunculkan, dan proses belajar seperti apa yang ingin dibangun melaluinya.

Di sinilah kami melihat bahwa yang membedakan sebuah pelatihan bukan pertama-tama aktivitasnya, melainkan cara merancang pengalaman tersebut.

Satu aktivitas yang sama bisa menghasilkan pembelajaran yang sangat berbeda.

Sebuah game bisa menjadi dangkal jika hanya dijalankan sebagai hiburan. Tetapi game yang sama bisa menjadi sangat kuat kalau ia dirancang untuk memunculkan perilaku tertentu, diamati dengan cermat, lalu dipakai sebagai pintu masuk untuk belajar.

Hal yang sama berlaku pada rope course, seni, petualangan, atau bentuk pengalaman lainnya.

Namun bagi kami, pengalaman saja belum cukup.

Peserta bisa menjalani aktivitas dengan penuh keterlibatan, tetapi tetap tidak menangkap hal yang paling penting jika pengalaman itu tidak diproses dengan baik.

Karena itu, setelah experiencing, selalu ada tahap yang menurut kami sangat menentukan, yaitu: memroses pengalaman menjadi pembelajaran.

Nama tahap ini bisa berbeda-beda: refleksi, debriefing, reviewing, framing, atau istilah lain yang sejenis. Bagi kami, namanya bukan hal utama. Yang penting adalah fungsinya: membantu peserta melihat kembali apa yang mereka lakukan, memahami pola yang muncul, mengenali dampak dari perilaku mereka, lalu menghubungkannya dengan situasi nyata yang mereka hadapi.

Di tahap ini, peserta tidak hanya “paham” apa yang baru saja terjadi. Mereka mulai:

  • mengenali perilaku mereka sendiri,
  • melihat konsekuensi dari pilihan mereka,
  • membedakan perilaku yang perlu dipertahankan dan yang perlu diperkuat,
  • lalu menyiapkan diri untuk membawa pembelajaran itu ke langkah berikutnya.

Jadi, bagi kami, implementasi pelatihan bukan hanya soal bagaimana aktivitas dijalankan. Implementasi pelatihan adalah tentang bagaimana pengalaman dihadirkan, diamati, lalu diproses menjadi pembelajaran yang bermakna.

Di titik inilah pelatihan tidak lagi sekadar memberi pengalaman. Pelatihan mulai memberi pengalaman yang dipelajari.

Dan ketika pengalaman itu dirancang dengan sengaja, dipandu dengan tepat, lalu diproses secara jernih menjadi pembelajaran, peserta bukan hanya menjalani aktivitas. Mereka belajar dari apa yang mereka alami sendiri.

Itulah sebabnya, dalam pendekatan kami, desain pengalaman belajar dan cara memprosesnya sama-sama penting.

Namun proses belajar tidak berhenti ketika pelatihan selesai, karena perubahan perilaku baru dapat benar-benar terlihat ketika pembelajaran diterapkan, direfleksikan, dan diperkuat kembali dalam praktik sehari-hari.

Categories:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *