Hari ini, soft skills, seperti kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, memimpin, dan bekerja sama sering disebut sebagai kunci sukses di dunia kerja yang tak kalah penting dari kemampuan teknis. Istilah soft skills pertama kali digunakan dalam pelatihan militer di Amerika Serikat di tahun 1960-an. Soft skills dilatihkan karena permasalahan yang muncul seperti komunikasi tim yang buruk, kepemimpinan yang kaku, kesulitan mengambil keputusan di bawah tekanan, dan kurangnya motivasi dianggap sebagai penyebab utama gagalnya koordinasi dalam misi. Karena itu, mereka istilah soft skills diperkenalkan untuk kemampuan perilaku yang membedakan dari hard skills, yaitu keterampilan teknis seperti menembak, membaca peta, atau mengoperasikan peralatan.
Apa yang kita tahu tentang soft skills?: menyepakati definisi
Dalam perkembangannya, soft skills didefinisikan sebagai keterampilan yang tidak terlihat yang dipelajari melalui pelatihan pengembangan diri yang digunakan untuk hidup dan bekerja. Definisi lain menjelaskan soft skills sebagai keterampilan hubungan manusia (people skills) yang mencakup keterampilan personal dan interpersonal. Keterampilan yang memungkinkan kita untuk bekerja secara efektif dan beradaptasi di tempat kerja. Konsep dan istilah soft skills digunakan secara fleksibel (interchangeable) dengan power skills atau core skills (keterampilan utama/inti), 21st century skills (keterampilan abad 21), essential skills (keterampilan esensial) dan foundational skills (keterampilan dasar atau fondasi). Keseluruhan kerangka konsep ini menjelaskan bahwa soft skills mencakup komunikasi, kolaborasi/Kerjasama, berpikir kritis, kreativitas, penyesuaian diri, kecerdasan emosi, dan pengelolaan diri.
Bagaimana pengembangan Soft Skills diletakkan dalam konteks pendidikan dan pelatihan kerja di Indonesia?
Satu hal yang pasti adalah, ya, soft skills dalam konteks Indonesia merupakan keterampilan yang strategis. Pendekatan untuk mengintegrasikan soft skills dalam Pendidikan dan pelatihan adalah:
- Pertama, adalah pendekatan akademik. Selama dua dekade terakhir, pengembangan soft skills menjadi perhatian penting dalam sistem pendidikan Indonesia dan dalam konteks Indonesia, diusung dalam Pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter ini terintegrasi dalam kurikulum dan tetap dipertahankan perkembangan kurikulum Kurikulum Pendidikan Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum Merdeka, dan pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning. menekankan pentingnya kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kolaborasi, adaptabilitas, dan kepemimpinan.
- Kedua, adalah pendekatan Sistem Pelatihan Kerja Nasional (Sislatkernas). Satu Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dengan 20 unit kompetensi telah dikembangkan termasuk pengembangan konsep diri positif dalam bekerja, pengelolaan waktu, komitmen, etika dan etiket, inklusivitas dan kesetaraan hak, serta kepemimpinan (Kepmenaker 234/2020). Lihat juga artikel Soft Skills is the New Hard.
Sejauh mana pendidikan karakter atau soft skills ini mendukung Kompetensi Kerja Lulusan?
Kita masih menghadapi satu tantangan. Terlepas dari keseriusan pemerintah Indonesia menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan soft skills atau Pendidikan Karakter ini, kita masih belum mengetahui secara persis outcome atau hasilnya. Kita belum mengetahui sejauh mana Pendidikan keterampilan non-teknis ini berkontribusi terhadap kompetensi lulusan.
Dari sisi pengguna atau pemberi kerja para lulusan ini, kemampuan seperti analytical thinking, resilience, curiosity, dan self-management menjadi kompetensi paling dicari industri. Sementara laporan Bappenas (2022) mencatat bahwa 54% perusahaan di Indonesia menilai lulusan baru masih lemah dalam komunikasi, kerja tim, dan manajemen waktu.
Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan karena:
- Pendidikan karakter masih bersifat supply driven atau didorong oleh pemikiran akademik untuk Pendidikan semata. Para profil lulusan – baik lulusan Pendidikan umum maupun vokasi, diharapkan untuk menjawab demand atau kebutuhan dunia kerja dan usaha, mendorong kebekerjaan dan produktivitas.
- Di saat yang sama, mengukur keberhasilan Pendidikan dan pelatihan soft skills juga menantang karena belum ada taksonomi keterampilan yang disepakati. Taksonomi dibutuhkan sehingga keterampilan yang dibutuhkan lebih terstruktur dan terdapat kesepakatan konsep maupun istilah, sehingga para pemangku kepentingan lebih mudah dan lebih efektif berkolaborasi melakukan pengembangan soft skills yang dibutuhkan dalam konteks masing-masing.
- Para pendidik dan tenaga kependidikan, khususnya di Pendidikan formal, masih membutuhkan penguatan yang spesifik untuk keterampilan Soft Skills ini.
Sebuah review cepat atas penerapan di institusi Pendidikan mengilustrasikan 3 contoh di bawah ini. Walaupun telah diakui bahwa soft skills adalah aspek yang penting, namun tantangan-tantangan masih mengemuka.
Kewirausahaan Sosial di SDN 1 Wonosari, Gunungkidul
Sekolah ini menjadi sekolah penggerak yang menerapkan program P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dengan tema “Kewirausahaan Sosial.” Guru merancang proyek membuat produk lokal berbahan alami dan menjualnya di pasar desa. Anak-anak belajar komunikasi, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. Namun walaupun terlihat adanya peningkatan partisipasi siswa 40% lebih tinggi dibanding pembelajaran konvensional, tetapi guru masih mengalami kesulitan dalam membuat rubrik penilaian soft skill yang objektif.
Studi Kasus 2: SMK Negeri 1 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau
SMA Negeri 1 Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menyajikan contoh unik melalui program “Pesantren Kilat Budaya”. Di sini, siswa tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga berlatih berbalas pantun, sebuah tradisi Melayu yang sarat etika. Aktivitas ini secara efektif melatih kecerdasan linguistik, ketangkasan berpikir, dan etika komunikasi yang santun. Program ini berhasil memperkuat identitas budaya siswa sekaligus mengasah soft skill public speaking dan kreativitas mereka. Namun seringkali guru pembimbing tidak memiliki latar belakang seni/budaya, sehingga pendalaman nilai filosofis dan teknikal tradisi pantun kurang optimal.
Studi Kasus 3: Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
UNY mengembangkan mata kuliah Soft Skill dan Karakter Kepemimpinan untuk seluruh mahasiswa baru sejak 2022. Pembelajaran dilakukan melalui simulasi, debat, dan kegiatan lapangan. Menurut laporan internal fakultas (2024), 82% mahasiswa menilai mata kuliah ini membantu mereka memahami pentingnya etika kerja dan komunikasi, tetapi dosen masih membutuhkan penguatan tentang metode experiential learning agar pembelajaran tidak berhenti di ranah kognitif.
Food for thoughts: Beberapa pertimbangan untuk rekomendasi
Tiga hal yang dapat dipertimbangkan oleh pengambil keputusan, para penyedia Pendidikan dan pelatihan, dan kita semua, adalah:
- Perlunya taksonomi keterampilan untuk soft skills, sehingga soft skills dapat diajarkan atau dilatihkan secara lebih efektif, yaitu melalui pengembangan profesi guru atau instruktur, penyelenggaraan melalui intra-kurikuler dan/atau ko-kurikuler. Taksonomi ini juga memudahkan asesmen siswa dan siswi, para lulusan, proses rekrutmen dan pelatihan kerja.
- Mengajarkan soft skills bukan sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Pendidikan Karakter diajarkan melalui pendekatan yang integrative dengan mata pelajaran lain. Walaupun hal ini tidak salah, namun nilai-nilai moralitas dan norma-norma yang disampaikan dalam penyelenggaraan Pendidikan, perlu diterjemahkan dalam keterampilan yang termanifestasi dan lebih terukur, lebih objektif daripada subjektif.
- Mengajarkan soft skills melalui experiential learning atau berbasis pengalaman. Saat ini Pendidikan karakter telah disampaikan dengan pendekatan experiential khususnya melalui program Sekolah Penggerak. Hal ini harus terus dilanjutkan dan disebarluaskan. Pelatihan fasilitasi berbasis pengalaman (experiential facilitation) masih terbatas, dimana 27% sekolah penggerak yang telah mengikuti pelatihan semacam ini (Kemendikbudristek, 2024). Soft skills merupakan pengalaman pribadi dan interpersonal yang perlu direfleksikan sehingga proses belajar terjadi. Lihat artikel Pelatihan Soft Skills Berbasis Experiential Learning.
Penulis: Budi Mulia dan Petra W Bodrogini Prakosa


No responses yet