[Siaran Pers] Menyiapkan Generasi Siap Kerja dari Jantung Kawasan Industri Sugihmanik

Prakosa Institute menggelar pelatihan soft skills bagi 300 warga lokal, dukung transformasi SDM di Grobogan

Grobogan, 2 Agustus 2025 — Di tengah geliat pembangunan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Sugihmanik Business Park, sebuah inisiatif pendidikan berbasis masyarakat hadir dengan misi sederhana namun diharapkan berdampak besar: membekali warga lokal dengan bekal terpenting dalam dunia kerja hari ini—soft skills.

Prakosa Institute, sebagai bagian dari  Prakosa International Connection (PIC) Group mendukung  PT Azam Laksana Intanbuana (ALIB), salah satu perusahaan yang beroperasional di Kawasan Peruntukkan Industri (KPI) Sugihmanik, menyelenggarakan Kegiatan bertajuk “Pelatihan Soft Skills Bagi Masyarakat Sekitar Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Sugihmanik Business Park, Kabupaten Grobogan – “Ayo Siap Kerja: Menumbuhkan Growth Mindset Dunia Kerja“. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari, mulai 4 hingga 7 Agustus 2025, bertempat di Balai Desa Sugihmanik, dan diikuti oleh kurang lebih 300 peserta dari kalangan usia produktif, khususnya lulusan SMA/SMKdari Desa Sugihmanik dan sekitarnya.

Dukungan Pemerintah Desa dan Dunia Industri

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Sugihmanik, Imam Santoso, yang menyampaikan dukungannya terhadap kolaborasi ini. Ia melihat pelatihan soft skills sebagai bentuk nyata dari pembangunan yang menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat desa.

“Banyak anak muda Sugihmanik yang cerdas dan rajin, tapi mereka butuh kepercayaan diri dan cara berbicara yang meyakinkan. Lewat pelatihan ini, kami tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tapi membangun mental siap bersaing,” ujar Imam Santoso, Kepala Desa Sugihmanik.

Hadir pula Didik Prawoto, Direktur Utama PT ALIB, yang mewakili perusahaan di kawasan industri dan menyatakan bahwa SDM lokal adalah aset jangka panjang yang layak diberi perhatian lebih.

“Kami ingin KPI Sugihmanik tidak hanya menjadi kawasan industri, tapi juga pusat pertumbuhan manusia. Kami percaya, investasi terbaik bukan hanya pada bangunan, tapi pada warga yang tinggal di sekitarnya,” ungkap Didik Prawoto, Direktur Utama PT ALIB.

Belajar Bertumbuh dalam Satu Hari yang Penuh Energi

Setiap harinya, sekitar 75 peserta menjalani satu hari pelatihan intensif. Namun, pelatihan ini bukan sekadar ruang belajar, Ia juga diharapkan menjadi ruang tumbuh—tempat peserta diajak mengenali potensi diri, memahami cara kerja tim, belajar komunikasi efektif, hingga menghadapi tantangan dan tekanan dunia kerja secara konkret.

Sesi demi sesi dirancang dengan pendekatan 70% praktik dan 30% teori, menciptakan suasana belajar yang aktif, reflektif, dan menyenangkan. Dari games interaktif, simulasi wawancara kerja, hingga penulisan CV yang berbasis mindset bertumbuh, peserta tak hanya belajar keterampilan teknis, tapi juga mengasah kepercayaan diri dan pola pikir adaptif.

Beberapa topik utama yang dibahas dalam pelatihan meliputi:

  1. Fixed vs Growth Mindset: peserta mengenal cara berpikir yang mendorong mereka terus belajar dan berkembang.
  2. Komunikasi & Feedback: latihan mendengar aktif, berbicara efektif, dan memberi-menerima umpan balik dengan sikap terbuka.
  3. Etos Kerja dan Profesionalisme: membangun disiplin, konsistensi, serta tanggung jawab di tempat kerja.
  4. Kerja Sama Tim & Resolusi Konflik: belajar berkolaborasi dan menyelesaikan hambatan interpersonal.
  5. Rencana Aksi Bertumbuh: menyusun langkah nyata yang akan mereka lakukan setelah pelatihan usai.

“Banyak dari peserta datang dengan keraguan apakah mereka cukup layak untuk bersaing di dunia kerja industri. Tapi mereka pulang dengan kepercayaan diri baru dan pola pikir yang lebih terbuka,” ujar Budi Mulia, Direktur Program Prakosa Institute.

SATWIKA: Kerangka untuk Pemberdayaan SDM Masa Depan

Pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi awal kerangka kerja SATWIKA (Sinergi Akselerasi Terpadu untuk Wahana Karir, Inovasi, dan Keunggulan), yang dikembangkan oleh Prakosa Institute sebagai pendekatan baru dalam penguatan SDM lokal. Awalnya dirancang untuk pendidikan dan pelatihan vokasi, SATWIKA kini diadaptasi untuk menjangkau masyarakat luas. Model ini memadukan pelatihan fungsional dengan penguatan karakter, dan berlandaskan pada kolaborasi lintas sektor antara desa, perusahaan, dan lembaga.

“Kami merancang SATWIKA bukan sebagai program pelatihan biasa, tetapi sebuah pengalaman yang hands-on berbasis pengalaman yang efektif, bagi peserta dan komunitas.  Tujuannya adalah membentuk individu-individu yang kompeten dan kompetitif, yang adaptif dalam dinamika dunia kerja dan wirausaha,” jelas Petra W. Bodrogini, Direktur Utama Prakosa Institute.

Dengan fasilitator berpengalaman dan metode yang mendorong partisipasi aktif, pelatihan ini menekankan pada transformasi personal dan kolektif. Mulai dari kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, hingga cara menghadapi konflik di tempat kerja.

“Ketika mindset berubah, pintu-pintu kesempatan terbuka.”

Pelatihan soft skills Sugihmanik bukan hanya mengubah cara berpikir 300 orang. Ia mengawali transformasi bagaimana kawasan industri bisa hadir sebagai katalis pembangunan manusia. Dan Prakosa Institute ada di garda depan perubahan itu—membawa gagasan, pengalaman belajar, dan harapan yang bertumbuh dari desa menuju masa depan.

Tentang Prakosa Institute

Prakosa Institute adalah social enterprise yang berfokus pada inovasi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Soft skills yang dilatihkan dikembangkan berbasis pendekatan pendidikan dan pelatihan vokasi, dan diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan—terutama dalam meningkatkan kesiapan kerja dan daya saing tenaga kerja lokal, termasuk di wilayah sekitar kawasan industri. Melalui pendekatan yang kolaboratif dan terkustomisasi, Prakosa Institute berkomitmen mendukung transformasi pendidikan vokasi dan membangun ekosistem kebekerjaan yang adaptif terhadap tantangan masa depan.

Categories:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *